Selamat malam pembaca Gudang Bedil yang budiman. Akhir pekan lalu mungkin bukanlah yang paling menyenangkan bagi kita, pasalnya Arsenal digilas 1-3 oleh Liverpool di Anfield. Tapi untungnya MU kalah di menit terakhir oleh Crystal Palace, begitu juga dengan Sp*rs di tangan Newcastle. Wkwkwk…

Yang menjadi bahan diskusi panas usai pertandingan adalah mengenai taktik dan pemain yang diturunkan oleh sang pelatih Unai Emery. Banyak yang mengatakan taktik ini aneh menjurus dungu.

Tapi tunggu dulu.

Memang hasil akhir berbicara lain, Liverpool mampu mencetak tiga gol hingga akhirnya Torreira membuat skor menjadi tidak begitu memalukan. Memang juga, menurut saya pribadi Emery seharusnya merombak permainan dan pemain pada babak kedua. Namun, bagi saya taktik yang digunakan oleh Emery di babak pertama justru memiliki kecerdikan tersendiri.

Izinkan saya yang minim ilmu taktik ini untuk membahasnya.

Strategi

Pertama-tama, mari kita lihat formasi Arsenal ketika melawan Liverpool Sabtu kemarin:

Ini yang dikasih tahu kepada official…

Gambar di atas menunjukkan team sheet resmi yang diajukan oleh Emery ke pihak official, di mana Ceballos berada di posisi no.10. Akan tetapi, nyatanya di atas lapangan tidak demikian, tetapi seperti di bawah:

Tapi ternyata kamu bohong… 🙁

Di kandang Liverpool, di mana sang lawan hampir dipastikan akan menguasai kepemilikan bola, Arsenal memutuskan untuk parkir bus (ya… aneh rasanya). Yang menarik dari formasi ini adalah Arsenal bertahan dengan sangat padat di tengah (narrow), sehingga membuka ruang bagi Liverpool untuk terus membombardir melalui sayap, terutama dari kedua bek mereka yang jago crossing, Andy Robertson dan Trent Alexander-Arnold (TAA).

Ketika mulai diserang, Guendouzi dan Ceballos akan mengikuti masing-masing Robertson dan TAA, sementara bek sayap kita Maitland-Niles (AMN) dan Monreal masuk ke dalam kotak penalti, membentuk formasi enam pemain bertahan. Alhasil, seperti yang bisa kita lihat di babak pertama, kita dibombardir oleh crossing dari kedua belah sayap, namun selalu berhasil dihalau.

Maklum, ketiga striker Liverpool tidak memiliki fisik yang tinggi. Maka dari itu Emery dengan tenang membiarkan bola-bola tinggi itu masuk ke kotak penalti Arsenal. Selain kesalahan dari Ceballos yang salah umpan kepada Mane di kotak penalti, rasanya tak ada kesempatan emas bagi Liverpool di babak pertama.

Baca dong: Rating pemain Liverpool vs Arsenal

Sementara itu, Aubameyang dan Pepe dengan setia menunggu di depan, jarang sekali membantu pertahanan. Emery tampak ingin memanfaatkan kecepatan dan skill individu dari keduanya untuk menghantam Liverpool dari serangan balik super cepat. Hal itu pun hampir membuahkan hasil, bahkan Arsenal lebih banyak memiliki peluang besar di babak pertama. Hanya penyelesaian yang efektif saja (dan mungkin Pepe yang belum 100% fit) yang memisahkan Arsenal dengan gol di babak pertama.

Sampai di sini bisa dibilang Arsenal “menguasai” narasi pertandingan. Liverpool terus terpancing untuk menaikkan Robertson dan TAA ke depan, mengekspos Van Dijk dan Matip akan kecepatan dua penyerang the Gunners.

Lalu faktor lain datang… yaitu tendangan bola mati alias set-piece. Di sinilah duo bek raksasa Liverpool – Van Dijk dan Matip – bisa ikut andil. Dan persis itulah yang saya takutkan, Arsenal rentan terhadap orang-orang raksasa pada set-piece, seperti yang terjadi ketika melawan Burnley (meski tidak bobol dari set-piece, Leno terlihat sangat kesulitan).

Dhuar… sundulan Matip menjebol gawang Leno menjelang babak pertama usai. Ambyar sudah strategi yang disusun Emery dengan apik.

Nah, itu penjelasan dari taktik Emery di babak pertama. Meski deg-degan karena terus dibombardir crossing, saya pribadi merasa taktik itu cukup berhasil. Namun, dengan taktik apapun, sebuah set-piece bisa mengubah keadaan 180 derajat, dan itulah yang sayangnya terjadi.

Beda lagi dengan babak kedua, di sini bagi saya Emery terlambat merespons ketinggalan 2-0 dengan perubahan penting. Masuknya Torreira pada menit 61 memang bagus untuk meningkatkan kengototan lini tengah, tetapi itu saja belum cukup. Kenapa Lacazette dan Mkhitaryan baru diturunkan pada menit 80-an pun masih menjadi misteri. Belum lagi dua kesalahan dari David Luiz yang mematikan pertandingan.

Pemilihan pemain

Saya juga melihat banyaknya perdebatan mengenai pemilihan pemain. Pemilihan keempat bek rasanya rasional. Untuk David Luiz, Emery membutuhkan jangkauan umpannya yang jauh untuk serangan balik (dan sempat memberikan umpan yang berbahaya untuk Pepe) serta pengalamannya (setidaknya di atas kertas). Sayang, di atas lapangan ia malah melakukan blunder yang tak sepantasnya dilakukan oleh bek berpengalaman seperti dirinya.

Ceballos, Guendouzi, dan Willock. Pemilihan ketiganya menurut saya jelas karena mereka terlihat kompak ketika melawan Burnley dan mampu bekerja sama dengan baik ketika di-press lawan. Tetapi kenyataannya pemain Liverpool adalah salah satu tim dengan pressing terbaik di dunia dan tidak memberikan mereka banyak kesempatan, terutama Ceballos yang mungkin kaget dengan energi yang ditunjukkan oleh Liverpool (selamat datang yang sesungguhnya ke Liga Inggris).

Willock sendiri terlihat fungsional ketika Arsenal menyerang balik dengan kekuatan fisik dan dribelnya, sementara Guendouzi rajin menjaga Robertson yang menyerang ke sisi kanan, begitu juga Ceballos di sisi satunya.

Nah, yang mungkin patut dipertanyakan (tetapi tetap bisa dipahami) adalah kehadiran Granit Xhaka. Emery sepertinya mengandalkannya untuk memulai serangan balik dengan umpannya yang jauh dan akurat. Ia juga tidak bermain buruk. Akan tetapi, atributnya yang lain kurang membantu. Ia bukanlah pemain dengan energi tinggi atau mampu menggiring bola dengan lihai, sesuatu yang diperlukan dalam pertandingan ini. Xhaka bahkan tidak mengambil set-piece di pertandingan ini.

Benar, pemain tengah lain seperti Torreira atau Ozil (yang bahkan tidak masuk skuad) belum fit benar. Tetapi masih ada Lacazette yang bisa mengisi nomor 10 yang ditempati Willock, sementara Willock dipasang lebih ke belakang. Lacazette bisa menjadi “tembok” bagi Arsenal ketika sedang menyusun serangan balik.

Kalau untuk dua pemain depan kita, tak perlu diperdebatkan lagi.

Baca plis: Rating pemain Liverpool vs Arsenal

Itulah uneg-uneg saya mengenai pertandingan tempo hari ketika Arsenal melawan Liverpool. Tapi sekali lagi, ini adalah pertandingan yang tak saya harapkan banyak untuk menang, seri saja sudah puas. Belum saatnya untuk mengkritik pelatih dan pemain habis-habisan, apalagi ketika melawan tim terbaik di Eropa musim lalu.

Beberapa hal positif juga muncul di sini, seperti permainan Pepe yang menjanjikan dan Torreira yang mulai panas. Emery pun bisa mempertimbangkan apakah akan memberi kesempatan lagi untuk Chambers akhir pekan depan.

Jadi menurutmu, kesambar apa Emery ketika menyusun taktik ini? Kesambar wangsit atau bisikan setan? Boleh kok uneg-unegnya ditulis juga di kolom komentar…

Leave a Reply